KALTIM GO GREEN 2011, menuju Provinsi Hijau Di Indonesia.
Itu adalah salah satu tulisan di Banner Spanduk dekat Kantor Kelurahan saya, begitu cermatnya daerah saya melihat Isu dunia untuk membuat
Masyarakat berpikir "hijau" untuk lingkungannya, saya melihatnya selalu dari dua sisi mata uang yang berbeda, saya jadi senang, bahwa Pemerintahan di kampung halaman saya peduli akan Hijaunya lingkungan, sehingga mulailah banyak kegiatan-kegiatan pemerintah tentang menghijaukan lingkungan, seakan Latah, mencari simpati atau memang ada kepedulian sosial terhadap lingkungan hidup yang sudah "tidak hijau" lagi.
Tapi begitu kontras, ketika saya memasuki jalan-jalan di Samarinda, sebut saja daerah Bengkuring, daerah Perkotaan yang dijadikan daerah Tambang, hingga membuat Jalanan menuju bengkuring berlobang-lobang, dan parahnya ketika hujan Lubang itu akan berisi air, dan jalanan hampir sulit dilalui karena licin, Sahabat saya sendiri pernah jungkir balik dari
motornya, karena Jalanan yang rusak itu yang tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah Kaltim, yang padahal mengatasnamakan "go Green" dalam slogan-slogan Baliho besar di Pusat Kota. Apakah hal ini hanya sebuah slogan? menarik wisatawan? atau menaikkan popolaritas?
Apalagi disaat dilakukan Jalan santai bertemakan Go Green, saat selesai
acara, sampahpun berserakan dimana-mana menghiasi Stadion Segiri Samarinda, sekarang, ada yang bisa menjawab pemandangan itu..? dimanakah slogan go green itu..? apa hanya sebatas di Spanduk, kata-kata pidato, dan bukan dijadikan budaya hidup, yang terlebih lagi semangat hijau, bukan hanya sekedar kata-kata, maupun slogan-slogan yang tertempel dimana-mana...

Ini menggelitik, apakah niat "Hijau" kita hanya berupa slogan seperti pemerintah yang kurang peka akan dampak dari ketidakpedulian terhadap lingkungan, sebut saja daerah Embalut, Kutai Kartanegara, sebagai lokasi daerah terbanyak mengoleksi Kubangan-Kubangan Bekas Tambang, yang menjadi danau yang tak mengalir, telah menelan 3 korban warga daerah yang tenggelam, dikutip Majalah Bongkar Online 16 Oktober 2008, dan kenyataannya tidak ada niat baik dari perusahaan tambang untuk memperbaikinya, apalagi pemerintah yang seakan tutup mata dan telinga akan kerusakan lingkungan tersebut, maka begitu kontras ketika Pemerintan Kaltim sedang gencar-gencarnya menanamkan budaya Go Green dari beberapa slogan yang tertempel di pusat-pusat Kota.

Cobalah liat para petugas kebersihan sampah yang selalu tulus membersihkan kota tanpa lelah, meski dengan gaji yang kecil, mereka tak pernah kenal mengeluh, baik sebelum pemerintah mencanangkan daerah Go Green, mereka selalu giat menjaga lingkungan agar bersih. Andil yang besar ini harusnya dapat diberikan penghargaan yang lebih besar dibanding sebuah gaji yang kecil, apa gunanya spanduk baliho besar bertuliskan "menjaga lingkungan Hijau" di mana-mana, tapi kesejahteraan petugas-petugas kebersihan didalam menjaga lingkungan Hijau hampir tidak diperhatikan.
Pernah disaat saya menjadi Panitia Pemberangkatan Rombongan Haji Tahun 2010 kemaren di Masjid Agung Kutai Kartanegara, saat sibuk mengangkat-angkat kursi, saya di hampiri oleh Kakek-kakek Tua, dari pakaiannya saya tahu dia sebagai Petugas pembersih Lingkungan, dan ia menanyakan sebuah pertanyaan yang menggores hati saya, "Mba, ini rame-rame ada apa ya mba?" "Ini acara pemberangkatan Haji Pak dari dana pemerintah" Ujar saya, lalu ia bertanya lagi, " Naik haji ya? gratis mba? dimana ya mba daftarnya, saya pingin dari dulu naik haji yang gratis? tapi gak ada dikasih tahu ya mba" ucapnya kelu, dan berlalu begitu saja.

Miris, memperhatikan gerak langkah beliau yang terseok-seok menarik bak sampahnya, memang benar ucapak kakek itu, tak akan pernah ada pengumuman tentang naik haji Gratis, apalagi untuk petugas kebersihan seperti Bapak itu, karena Tahun kemaren yang di naikkan hati adalah keluarga pejabat Kukar, Pejabat2 dan keluarganya, begitu terlalunya menurut saya, apalah arti sebuah slogan-slogan itu, toh menghijaukan para petugas kebersihan pun seakan mereka tutup mata dan telinga, padahal mereka tidak tenggelam, mereka ada, dilingkungan kita, dan pedulilah.
Semangat Hijau haruslah kita awali dengan kesadaran diri sendiri, bukan karena sebuah Trend akhirnya kitapun ikutan "latah", kita harus menjadikan budaya hidup kita, karena dengan kita mencintai menghijaukan Lingkungan, cepat atau lambat kita akan mendapatkan manfaat dari yang kita lakukan. Jika memang dirumah, kita tidak punya halaman, dan pohon maupun tanaman, cobalah untuk mensugesti diri, agar tidak membuang sampah sembarangan, membagi sampah menjadi dua jenis, basah dan kering, hingga nantinya kita bisa memperingan Para Petugas Kebersihan, jadi tidak hanya bersikap seperti slogan Hijau,, tetapi juga punya empati dan kepedulian dengan semangat hijau menjaga lingkungan dan peduli kepada para petugas Kebersihan maupun Lingkungan-lingkungan yang rusak akan tambang maupun jalanan yang berlubang belum dijamah oleh perbaikan.


Contohlah, Penduduk-penduduk Embalut Kutai yang membuat Kubangan Tambang tersebut sebagai tempat mengembangbiakkan Ikan Air tawar, penduduk Bengkuring yang saling bahu membahu memperbaiki jalanan dengan saling menyumbang semen, pasir ataupun dana untuk memperbaiki jalanan-jalanan rusak tersebut, Maka berkacalah pada kesungguhan maupun ketulusan para penyemangat Hijau, tak hanya sekedar Slogan, tetapi dengan aksi dan tindakan Nyata!
Tulisan ini terdedikasi untuk para penghijau "kasat mata" yang tak pernah diangkat di media spanduk , para petugas kebersihan.. andalah teladan semangat hijau kami^_^
*diikutsertakan ke lomba BeatBlog Writing Contest green your mind.